
Sahabat saya Mas Soejanto mengulik-ulik kawan geologist atau ahli
kebumian yang banyak bekerja di perminyakan. Menurut beliau rata-rata
geologist di perminyakan ini sulit diajak bisnis. Konon katanya
ahli geologi itu lebih sulit untuk diajak berpikir tentang bidang lain terutama di dunia industri. Si ahli bumi ini lebih banyak memikirkan riset dan penelitian ketimbang mikir bisnis nyari duwik.
“Lah tapekno kenapa lulusannya mesti pakai insinyur bukan doktoradus geologi, gitu ta Pakdhe ?”
“Lah ini kan maunya mertua. Kalau dalam undangan kawinan anak mantunya
ada gelar insinyur kan bisa sambil mesam-mesem ta, Thole”
Geology is more science than applied knowledge
Sependek pengetahuanku, walaupun lulusannya dulu disebut sebagai
insinyur, ahli geologi bukan disebut engineer. Karena memang lebih
bersifat sebagai ilmu murni (
science) ketimbang applikasi.
Sehingga secara natural akan mempengaruhi gaya berpikir serta gaya hidup
geologist (ahli geologi itu sendiri). Engineering memang begitu dinamis
sejak dari lahirnya.
Ilmu geologi walaupun bersifat dinamik, namun siklusnya bisa jutaan
tahun, walaupun bisa juga sepuluh tahunan, namun jelas tidak sependek
ilmu engineerig. Engineering sebagai ilmu aplikatif ini akan menuntut
perubahan yang jauh lebih dinamis ketimbang dinamika banjir sekalipun.
Ilmu management yg berhubungan profit ekonomi lebih dinamis lagi, dengan
siklus “budget” yang tahunan merupakan bentuk bagaimana pemikiran
strategisnya setahun sekali akan berubah.
Politik lebih “gelo” lagi. Perubahan dinamisnya bisa dalam orde jam dan
detik apalagi ketika masa-masa penghitungan swara pemilu pilkadal. Wuik
!!
Perbedaan siklus dinamika ilmu inilah yang membuat geologist akan
terasa lambaan dibanding siput ! Kura-kura saja mungkin terasa terlalu
cepat kalau dibandingkan gerakan lempeng tektonik yang 7 cm pertahun !!
Beruntunglah bagi rekan-rekan geologist mengenyam posisi management
sehingga mental siklus jutaan tahunnya bisa diperpendek menjadi siklus
tahunan. Lebih-lebih yang akhirnya ikut terjun di lingkup politik,
pergerakannya secepat Formula – 1
Wush-wush-wush !!!
Pendidikan
Pendidikan geologi jelas ditujukan untuk pendidikan secara general.
Dimana pendidikan atau universitas adalah bertujuan untuk menjaga
kelangsungan hidup manusia melalui olah nalar dan olah pikir. Akan
sangat sulit kalau pendidikan dibuat menjadi sebuah bisnis entity
“ansich”. Kalau manajementnya diubah seperti layaknya menjalankan gaya
bisnis … bolehlah. Saat inipun sistem manajement University yang BHMN
ini juga sudah jauh beda.
Tapi kalau pendidikan (PT jurusan Geologi, seperti istilah
Mas Soe)
untuk lebih ditujukan untuk tujuan industri aku pikir ndak mudah,
bisa-bisa malah jadi salah arah nantinya. University bukan seperti
Primagama untuk mengadakan kursus. Tapi mengadakan serta mendidik ahli
riset merupakan salah satu tujuan pendidikan secara general.
Positioning !
Nah slentingan Pak Soejanto ini aku pikir lebih banyak untuk
mnggelitik si Geologist … bukan PT Jurusan geologi ….. Yang lebih
penting adalah buat geologistnya atau buat alumninya untuk segera
mengerti posisinya. Terutama posisinya ketika saat ini berada. Ntah
sebagai mahasiswa, sebagai dosen, sebagai pekerja ataupun reseacher.
Harus tahu posisinya saat mulai masuk bekerja, atau bahkan saat
lulus. Persis seperti ajaran Pak Wartono kalau ke lapangan. Ketahui dulu
posisimu, tembak G Pendul dan G Pegat, plot dimana dalam peta sebelum
mendiskripsi singkapan. Ketahui lokasi samplemu sebelum membuat sayatan
dst dsb.
Kalau memang saat ini berada di dunia kerja mungkin kita (yg
geologist) harus mampu memberikan pengaruh (influence positip pada
lingkungannya untuk ngerti apa itu geologi. Bukan seperti dulu dimana
hanya manager geologist yang harus cerita ke bagian keuangan.
Lah iya lah …. Sebagai geologist atau sebagai ustad ataupun dosen,
ataupun tukang tambal ban (eh ada yg baca ga ya) …sebagusnya mesti bisa
mengoptimalkan kemampuan serta peran dalam mempengaruhi (influence)
lingkungan.
OK kembali ke Laptop
Yang diatas tadi hanyalah permisif untuk mengatakan “
Aku emang sudah dari sononya begitu“. “
Ilmuku juga begitu. Dan ajaran yang kuperoleh emang ya kudu begitu.”
“Lah hiya pakdhe, lantas kenapa Pak Soejanto bisa bilang kalau ahli
geologi itu lebih sulit untuk diajak berpikir tentang bidang lain
terutama di dunia industri ?”
Soal perbedaan Gelogist dengan insinyur memeng sudah ada dari
sononya. tetapi ketika seseorang menjadi ahli kebumian atau geologist
yang ingin berlari maju kenceng sekenceng Formula – 1, yang lebih
penting adalah ahli geologi ini
harus mampu secara cepat mengantisipasi perubahan. Perubahan dalam siklus waktu sangat pendek tentusaja. Siklus pendek yang jarang dijumpai dalam ilmu yang dipelajarinya.
Perubahan dalam industri
Dulu ketika perusahaan masih berbentuk
silo-silo atau kotak-kotak profesi (
ini jaman aku awal masuk kerja),
geologist dipimpin oleh Mgr Geologi, geophycisist dipimpin oleh Mgr
Geophysics, demikian juga drilling, petroleum dan production engineer.
Semua berada pada kotak-kotak profesinya masing-masing. Pada waktu itu
tentusaja geologist masih berkutet dengan pemikiran sciencenya yang
luambaatt. Orde tektonik dalam kecepatan 7 cm/tahun.
Saat ini sudah jamannya globalisasi, alias
jaman gado-gado campur lotek. Bekerja sudah dalam satu “
team”
yang terdiri atas Geologist-Geopsikis-Enginner, bahkan kadangkala ada
economist. Geologist harus mampu menjadi pemimpin untuk soal kebumian di
team itu, demikian juga yang lain.
Learning atau belajar harus
dilakukan sendiri. Kalau dulu ada orang yang lebih senior dalam kotak
profesi, saat ini geologist harus lebih mandiri dalam mengejar
ketertinggalan ilmunya.
Kampus Geologi Undip
Kalau saja ilmu diskripsi singkapan dari pak Wartono masih diingat
dan dijalankan … aku rasa dengan mengetahui “dimana posisiku kali ini”,
saya yakin geologist akan mudah beradaptasi. Adaptasi akan lebih mudah
ketika kita mengerti ada dimana dan mau kemana. Dan seperti kata Pak
Soejanto, bahwa industri itu tujuannya untuk mencari keuntungan. Bukan
mencari tahu seperti tujuan riset.
“Lah iya pakdhe. Tujuan dibuatnya perusahaan memang mencari keuntungan
materi. Bukan sekedar ngebor untuk pingin tahu isinya apa”
“Disitulah perbedaan dengan engineer yang lebih praktis dalam berpikir. Selalu aplikatif dalam hasil kerjanya”
“Pakdhe, yang lebih hebat itu orang yang mengerti bagaimana cara kerja
geologist anakbuahnya, yang mengerti bagaimana mengatur anakbuahnya.
Gitu kan, Pakdhe ?
Segalanya berubah.
Bahkan perubahanpun sudah berubah !
Untungnya cara belajar serta mengajar jaman saya dulu sudah tidak
lagi statis. Saat ini cara belajar mengajar di kampus sudah berubah.
Sebagai gambaran juga. Bahwa mahasiswa geologi jaman sekarang sudah beda
dengan mahasiswa geologi jaman aku dulu.
Pengalaman Mas Wahyu, dosen di Geologi Undip yang kutemui hari Sabtu
kemarin cukup memberikan gambaran baru ttentang dunia mahasiswa saat
ini. Mas Wahyu yg jadi dosen di Undip ini sudah terbiasa di sms
muridnya. Jaman saya dulu menunggu dosen yang masih didalam kantornya
untuk mengingatkan jam kuliah sudah mulai saja rada rikuh dan
pakewuh.Sip lah. Dunia belajar mengajar sudah berubah.
Juga cross disiplin ini sudah mulai terbiasa di kampus.
Seminar Energi di Undip Semarang
Ada banyak perubahan cara pandangku akan dunia kampus ketika kemarin
wektu aku dan dan Mas Yusmawan (presdir BP-Castrol) memberikan seminar
sehari di Undip. Seminar ini juga dihadiri oleh mahasiswa jurusan lain.
Bahkan dengan membayar 30 ribu per mahasiswa, seminar saat ini bisa
dihadiri 370 mahsiswa bebagai jurusan. Wuih Hebatt !!! Generasi sekarang
bukan generasi yang hanya mintak subsidi. Bukan generasi gratis
yanghanya nuntut ditraktir. Mereka sudah mandiri. Mengerti bahwa
mengadakan seminar itu juga perlu biaya. Salute buat mahasiswa generasi
baru ini !!
Dunia mahasiswa sekarang sudah beda
Dunia universitas juga berubah
Kita juga berubah …
Pandangan kitapun harus di”
ajust” dan dikalibarsi supaya tidak salah duga apa yang terjadi disana.
Fakultas Teknik Prodi Geologi Universitas Diponegoro membanggakan !
Disisi lain aku salut dengan ahli-ahli geologi yang menjadi dosen di
UNDIP. Dalam waktu 5 tahun sudah meluluskan 30 alumni dengan lama studi
tercepat 3 tahun 8 bulan !.
Bahkan berhasil menggondol juara 1, 2 dan 3 sekaligus dalam lomba karya
ilmiah di ITB, juara-juara ini atas nama Aveliansyah, Risky Syawal, dan
M. Dinul H. Mengalahkan ITB dan UGM yang usianya sudah puluhan tahun !!